Biskuit Gosong

Kisah nyata ini di-posting seorang tanpa nama di sebuah situs website. Rasanya, patut disimak bagi para orangtua atau anak agar mau menerima segala perbedaan / kekurangan dalam sebuah keluarga.

Beginilah kisahnya:

Sewaktu aku kecil, ibuku kadang suka membuatkan kue-kue camilan untuk makan malam. Suatu malam sepulang dari kantor, ibu membuatkan biskuit. Ternyata biskuit-biskuit buatannya gosong. Meski begitu, ibu tetap menyajikan biskuit-biskuit gosong itu di depan ayahku. Aku sudah tak sabar menunggu reaksi ayahku! Tapi, yang dilakukan ayah adalah mengambil biskuit itu, tersenyum pada ibuku, dan bertanya padaku perihal sekolahku. Ayah mengoleskan mentega ke biskuit itu dan memakannya!

Ketika aku meninggalkan meja makan malam itu, ibuku meminta maaf pada ayah karena biskuitnya gosong. Dan reaksi ayahku adalah, “Sayangku, aku suka sekali biskuit gosong.”

Sewaktu ayah mengantarkan aku tidur, aku bertanya apakah ia benar-benar menyukai biskuit gosong itu. Ayah memelukku dan berkata, “Ibumu sudah bekerja keras hari ini dan ia pastinya sangat lelah. Lagipula, sebuah biskuit gosong takkan membuat orang menderita.”

Netter yang Bijaksana,

Sungguh luar biasa sikap si ayah dalam kisah nyata ini. Sahabat, memang tiada yang sempurna dalam kehidupan ini. Begitu pula, tiada manusia yang sempurna. Terkadang kita melupakan hari ulangtahun orang-orang terdekat kita atau hal terpenting lainnya yang terkait orang terkasih kita. Tapi, sering kali hal-hal sepele ini berubah menjadi masalah besar dalam keluarga kita. Akhirnya, orangtua bertengkar pada anak-anaknya, dan begitu sebaliknya.

Kisah ini mencoba mengingatkan kita untuk belajar menerima setiap kekurangan atau kesalahan orang lain, khususnya anggota keluarga kita. Mari kita belajar untuk menghargai perbedaan tiap-tiap anggota keluarga kita. Karena itulah salah satu kunci terpenting untuk menciptakan hubungan keluarga yang sehat dan harmonis. Jangan biarkan “biskuit yang gosong” meretakkan keharmonisan dalam keluarga kita.

 

Sumber: broadcast message BBM dari teman

Baja atau Kaca

“Palu menghancurkan Kaca,.. tapi Palu membentuk Baja.”

Apa makna dari pepatah kuno Rusia ini?

Jika jiwa kita rapuh seperti Kaca, maka ketika Palu masalah menghantam kita, maka dengan mudah kita putus asa, frustasi, kecewa, marah dan jadi remuk redam.

Jika kita adalah Kaca, maka kita juga rentan terhadap benturan… Kita mudah tersinggung, kecewa, marah, atau sakit hati saat kita berhubungan dengan orang lain…
Sedikit benturan sdh lebih dari cukup untuk menghancurkan hubungan kita.

Jangan pernah jadi Kaca, tapi jadilah Baja.
Mental Baja adalah mental yang selalu positif, bahkan tetap bersyukur disaat masalah dan keadaan yg benar-benar sulit tengah menghimpitnya.

Mengapa demikian?
Orang yang seperti ini selalu menganggap bahwa masalah adalah proses kehidupan untuk membentuknya menjadi lebih baik.

Sepotong besi Baja akan menjadi sebuah alat yang lebih berguna setelah lebih dulu diproses dan dibentuk dengan Palu.
Setiap pukulan memang menyakitkan, namun mental Baja selalu menyadari bahwa itu baik untuk dirinya.

Jika hari ini kita sedang ditindas oleh masalah hidup, jangan pernah merespons dengan sikap yang keliru.

Jika kita adalah “Baja” kita akan selalu melihat Palu yang menghantam kita sebagai sahabat yang akan membentuk kita.

Sebaliknya jika kita “Kaca” maka kita akan selalu melihat Palu sebagai musuh yang akan menghancurkan kita.. 🙂

 

Sumber: broadcast message BBM dari teman

Kisah Sebutir Mutiara

Ada seorang tua yang sangat beruntung.
Dia menemukan sebutir mutiara yang besar dan sangat indah, namun kebahagiaannya segera berganti menjadi kekecewaan begitu dia mengetahui ada sebuah titik noda hitam kecil di atas mutiara tersebut.

Hatinya terus bergumam, kalau tidak ada titik noda hitam, mutiara ini akan menjadi yang tercantik dan paling sempurna di dunia!!

Semakin dia pikirkan semakin kecewa hatinya. Akhirnya, dia memutuskan untuk menghilangkan titik noda dengan menguliti lapisan permukaan mutiara.

Tetapi setelah dia menguliti lapisan pertama, noda tersebut masih ada.
Dia pun segera menguliti lapisan kedua dengan keyakinan titik noda itu akan hilang.
Tapi kenyataannya noda tersebut masih tetap ada. Lalu dengan tidak sabar, dia menguliti selapis demi selapis, sampai lapisan terakhir.
Benar juga noda telah hilang, tapi mutiara tersebut ikut hilang!!

Begitulah dengan kehidupan nyata, kita selalu suka mempermasalahkan hal yang kecil, yang tidak penting sehingga akhirnya merusak nilai yang besar…

Persahabatan yang indah puluhan tahun berubah menjadi permusuhan yang hebat hanya karena sepatah kata pedas yang tidak disengaja …..

Keluarga yang rukun dan harmonispun jadi hancur hanya karena perdebatan-perdebatan kecil yang tak penting …

Yang remeh kerap dipermasalahkan..
Yang lebih penting dan berharga lupa dan terabaikan…
Seribu kebaikan sering tak berarti…
Tapi setitik kekurangan diingat seumur hidup…..
Saatnya kita belajar menerima kekurangan apapun yang ada dalam kehidupan kita…

Bukankah tak ada yang sempurna di dunia ini…? So, bijaksanalah sebelum menyesal di kemudian hari…
Mudah memaafkan adalah suatu yang indah…

 

Sumber: broadcast message BBM dari teman

Semangkok Bakmi

Seorang anak bertengkar dengan ibunya dan meninggalkan rumah.

Saat berjalan ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.

Ia lewati sebuah kedai bakmi. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi.

Pemilik kedai melihat anak itu berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata, “Nak, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”

“Ya, tetapi aku tidak membawa uang,” jawab anak itu dengan malu-malu.

“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu,” jawab si pemilik kedai.

Anak itu segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.
“Ada apa Nak?” tanya si pemilik kedai. “Tidak apa-apa, aku hanya terharu,” jawab anak itu sambil mengeringkan air matanya.
“Seorang yang baru kukenal memberi aku semangkuk bakmi tetapi ibuku sendiri setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah. Kau seorang yang baru kukenal tetapi begitu peduli denganku,” katanya kepada pemilik kedai.

Pemilik kedai itu berkata, “Nak, mengapa kau berpikir begitu? Renungkan hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu.

Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil hingga saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Kau malah bertengkar dengannya?”

Anak itu terhenyak mendengar hal tersebut. ‘Mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu?

Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal aku begitu berterima kasih,
tetapi kepada ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulian kepadanya.

Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.’

Anak itu segera menghabiskan bakminya lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumah.

Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas.

Ketika melihat anaknya, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah, “Nak, kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam.”

Mendengar hal itu, si anak tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis di hadapan ibunya.

Sekali waktu kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain untuk suatu pertolongan kecil yang diberikannya pada kita.

Namun kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orangtua kita, kita harus ingat bahwa kita mesti berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita…

 

Sumber: broadcast message dari teman

Kisah Si Lalat

Sebuah Cerita Untuk Pembelajaran..

Selamat membaca…

Beberapa ekor lalat terbang berpesta di atas tong sampah di depan sebuah rumah. Suatu ketika pemilik rumah keluar dan tidak menutup pintu kembali dan seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah tersebut.

Si Lalat menuju meja makan yang penuh dengan makanan, “Saya bosan dengan sampah-sampah itu…
Saatnya menikmati makanan segar….”

Setelah kenyang, Si lalat ingin keluar dan menuju pintu kaca saat dia masuk, tapi ternyata tertutup rapat. Si lalat pun terbang di sekitar kaca dan tak kenal menyerah untuk mencari lubang keluar. Bolak-balik hingga petang, akhirnya terkulai lemas dan terkapar di lantai.

Tak jauh dari tempat itu, nampak serombongan semut merah berjalan beriringan, lalu pergi mengerumuni dan mengigit tubuh Si lalat hingga mati.

Dalam perjalanan, seekor semut Muda bertanya kepada rekannya yang lebih tua,
“Ada apa dengan lalat ini, kenapa dia sekarat?”

“Oh itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia. Sebenarnya mereka telah berusaha keras untuk menemukan jalan keluar”.

“Aku masih tidak mengerti…. kenapa lalat itu telah berusaha keras, tapi kenapa tidak berhasil?”

Semut Tua menjawab,
“Lalat itu TAK KENAL MENYERAH dan TELAH MENCOBA BERULANG KALI, HANYA SAJA….
DIA MELAKUKANNYA DENGAN CARA-CARA YANG SAMA.

——————–
Pesan cerita….
JIKA KITA MELAKUKAN SESUATU DENGAN CARA YANG SAMA, NAMUN MENGHARAPKAN HASIL YANG BERBEDA, MAKA NASIB KITA BISA-BISA AKAN SAMA SEPERTI LALAT TERSEBUT.

PEMENANG tidak melakukan YANG BERBEDA,
mereka hanya melakukan dengan CARA YANG BERBEDA.

Semoga Bermanfaat…

 

Sumber: BC dari teman

Arti Papa dalam Hidupmu

Bagi seorang yang sudah dewasa,
yang sedang jauh dari orangtua,
akan sering merasa kangen dengan mamanya.

Bagaimana dengan papa ?

Mungkin karena mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu.

Tp tahukah kamu,
jika ternyata papalah yang mengingatkan mama untuk meneleponmu ?

Saat kecil,
mamalah yang lebih sering mendongeng.
Tapi tahukah kamu bahwa sepulang papa bekerja dengan wajah lelah beliau selalu menanyakan pada mama, apa yang kamu lakukan seharian.

Saat kamu sakit batuk/pilek,
Papa kadang membentak
“Sudah dibilang! Jangan minum es!”.
Tapi tahukah kamu bahwa papa khawatir ?

Ketika kamu remaja,
kamu menuntut untuk dapat izin keluar malam.
Papa dengan tegas berkata: “tidak boleh!”
Sadarkah kamu bahwa papa hanya ingin menjagamu ?

Karena bagi papa, kamu adalah sesuatu yang sangat berharga.

Saat kamu bisa lebih dipercaya,
Papa pun melonggarkan peraturannya.
Kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.

Maka yang dilakukan papa adalah menunggu di ruang tamu dengan sangat khawatir.

Ketika kamu dewasa, dan harus kuliah di kota lain…
Papa harus melepasmu.
Tahukah kamu bahwa badan papa terasa kaku untuk memelukmu?

Dan papa sangat ingin menangis.
Di saat kamu memerlukan ini-itu, untuk keperluan kuliahmu, papa hanya mengernyitkan dahi.
Tapi tanpa menolak, beliau memenuhinya.

Saat kamu diwisuda..
Papa adalah orang pertama yang berdiri dan bertepuk tangan untukmu.
Papa akan tersenyum dan bangga.

Sampai ketika teman pasanganmu datang untuk meminta izin mengambilmu dari papa…
Papa akan sangat berhati-hati dalam memberi izin..

Dan akhirnya…
Saat papa melihatmu duduk di pelaminan bersama seorang yang dianggapnya pantas,
Papapun tersenyum bahagia.

Apa kamu tahu,
bahwa papa sempat pergi ke belakang dan menangis?

Papa menangis karena papa sangat bahagia.

Semoga Putra/i kecilku yang manis berbahagia bersama pasangannya.”

Setelah itu papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…

Dengan rambut yang memutih dan badan yang tak lagi kuat untuk menjagamu.

♥ papa

 

Sumber: broadcast message dari teman

Kisah Kopi vs Cangkir

Dalam sebuah acara reuni, beberapa alumni menjumpai guru sekolah mereka dulu. Melihat para alumni tersebut ramai-ramai membicarakan kesuksesan mereka, guru tersebut segera ke dapur dan mengambil seteko kopi panas dan beberapa cangkir kopi yang berbeda-beda. Mulai dari cangkir yang terbuat dari kristal, kaca, melamin dan plastik. Guru tersebut menyuruh para alumni untuk mengambil cangkir dan mengisinya dengan kopi.

Setelah masing-masing alumni sudah mengisi cangkirnya dengan kopi, guru berkata, “Perhatikanlah bahwa kalian semua memilih cangkir yang bagus dan kini yang tersisa hanyalah cangkir yang murah dan tidak menarik. Memilih hal yang terbaik adalah wajar dan manusiawi. Namun persoalannya, ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus, perasaan kalian mulai terganggu. Kalian secara otomatis melihat cangkir yang dipegang orang lain dan mulai membandingkannya. Pikiran kalian terfokus pada cangkir. Padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkirnya melainkan kopinya.”

Hidup kita seperti kopi dalam analogi tersebut di atas, sedangkan cangkirnya adalah pekerjaan, jabatan, dan harta benda yang kita miliki.

Pesan moralnya, jangan pernah membiarkan cangkir mempengaruhi kopi yang kita nikmati. Cangkir bukanlah yang utama, kualitas kopi itulah yang terpenting. Jangan berpikir bahwa kekayaan yang melimpah, karier yang bagus dan pekerjaan yang mapan merupakan jaminan kebahagian. Itu konsep yang sangat keliru. Kualitas hidup kita ditentukan oleh “Apa yang ada di dalam” bukan “Apa yang kelihatan dari luar”.

Apa gunanya kita memiliki segalanya, namun kita tidak pernah merasakan damai, sukacita, dan kebahagian di dalam kehidupan kita? Itu sangat menyedihkan, karena itu sama seperti kita menikmati kopi basi yang disajikan di sebuah cangkir kristal yang mewah dan mahal. Kunci menikmati kopi bukanlah seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas kopinya.

Selamat menikmati secangkir kopi kehidupan.

 

Sumber: broadcast message dari teman